Bulan Ramadan di lingkungan pesantren selalu memiliki nuansa sensorik yang khas, salah satunya adalah aroma kertas kitab kuning yang menyerbak di setiap sudut aula pengajian. Bagi para santri di Pesantren Nurul Huda, bau kertas tua yang khas, perpaduan antara wangi tinta dan debu-debu ilmu, adalah penyemangat yang tidak ternilai harganya. Di saat perut mulai terasa kosong dan tenggorokan mulai kering, aroma ini seolah menjadi “nutrisi spiritual” yang membuat mereka tetap terjaga di depan meja kecil masing-masing. Kegiatan sore hari di pesantren ini bukan sekadar menunggu waktu, melainkan sebuah pengabdian intelektual yang dilakukan dengan penuh rasa cinta terhadap warisan para ulama terdahulu.
Setiap lembaran kitab yang dibalik memberikan suara gesekan yang ritmis, menyatu dengan suara serak-serak basah kiai yang membacakan teks-teks klasik tersebut. Di Pesantren Nurul Huda, tradisi ini dijaga dengan sangat ketat namun penuh dengan kehangatan. Para santri diajarkan bahwa kitab bukan sekadar benda mati, melainkan wasilah atau perantara datangnya berkah dan ilmu. Oleh karena itu, mereka memperlakukan kitab-kitab tersebut dengan penuh adab, seperti meletakkannya di tempat yang tinggi dan tidak membelakanginya. Keheningan yang tercipta selama proses belajar sore hari ini memberikan ruang bagi setiap individu untuk melakukan refleksi diri tentang apa yang telah mereka pelajari selama sehari penuh.
Momen menunggu detik berbuka puasa diisi dengan kegiatan yang sangat produktif. Jika di tempat lain orang-orang menghabiskan waktu dengan jalan-jalan sore atau sekadar bersantai, santri di sini justru memperdalam pemahaman mereka tentang hukum-hukum agama, tata bahasa Arab, hingga ilmu tasawuf. Mereka memahami bahwa setiap detik di bulan Ramadan sangatlah berharga. Dengan tetap fokus pada baris-baris kalimat dalam kitab, rasa lapar yang menyerang seolah teralihkan oleh asyiknya membedah makna-makna filosofis yang terkandung di dalamnya. Fenomena ini menunjukkan betapa kuatnya mentalitas santri dalam mengendalikan hawa nafsu demi pencapaian intelektual yang lebih tinggi.
