Dalam ekosistem pesantren, pendidikan tidak hanya terjadi di dalam kelas saat kiai membacakan kitab kuning, tetapi juga terpancar melalui perilaku sehari-hari di luar madrasah. Salah satu tradisi yang paling mengakar kuat adalah roan, sebuah istilah khas pesantren yang merujuk pada aktivitas kerja bakti massal. Di Pondok Pesantren Nurul Huda, Budaya Roan telah bertransformasi dari sekadar kegiatan bersih-bersih rutin menjadi sebuah instrumen pendidikan karakter yang sangat vital. Kegiatan ini menjadi manifestasi nyata dari kaidah agama yang menyatakan bahwa kebersihan adalah sebagian dari iman.
Bagi para santri, roan adalah momen di mana ego individu dileburkan dalam semangat kolektif. Setiap akhir pekan atau pada momen-momen tertentu, seluruh penghuni pesantren, mulai dari santri junior hingga pengurus senior, bergerak bersama untuk merawat ruang hidup mereka. Di Nurul Huda, kegiatan ini dilakukan dengan penuh kegembiraan, jauh dari kesan paksaan. Para Santri Nurul Huda memahami bahwa lingkungan yang bersih adalah prasyarat utama untuk mencapai ketenangan dalam belajar. Dengan menyapu halaman, membersihkan selokan, hingga merapikan asrama, mereka sebenarnya sedang membersihkan hati dari sifat malas dan acuh tak acuh.
Secara filosofis, roan mengajarkan tentang rasa kepemilikan. Pesantren bukan sekadar tempat menumpang tidur dan belajar, melainkan rumah besar yang harus dijaga martabatnya. Saat seorang santri memungut sampah, ia sedang belajar untuk bertanggung jawab atas jejak ekologis yang ia tinggalkan. Dalam konteks menjaga kebersihan, pesantren ini menerapkan sistem yang terorganisir namun tetap fleksibel. Pembagian tugas dilakukan secara adil, namun semangat saling membantu tetap menjadi prioritas. Jika satu area sudah selesai dibersihkan, kelompok tersebut akan bergeser membantu kelompok lain yang masih bekerja. Inilah pendidikan sosial yang tidak didapatkan dari buku teks manapun.
Aspek lain yang menarik dari tradisi ini adalah hilangnya sekat hierarki untuk sementara waktu. Di bawah terik matahari atau gerimis tipis, semua orang memiliki derajat yang sama sebagai pelayan lingkungan. Kerja sama yang terjalin saat mengangkat bak sampah atau membersihkan kaca jendela mempererat tali persaudaraan (ukhuwah) di antara mereka. Lingkungan yang asri di Nurul Huda adalah hasil dari keringat dan tawa yang menyatu. Selain itu, lingkungan yang tertata rapi menciptakan atmosfer yang mendukung kesehatan fisik santri, sehingga mereka dapat mengikuti jadwal pengajian yang padat tanpa kendala kesehatan yang berarti.
