Pesantren adalah pusat pendidikan Islam tradisional yang menggunakan metode khas untuk mencapai tujuan Tafaqquh Fiddin (pendalaman ilmu agama). Salah satu cara paling efektif yang digunakan untuk membentuk komunitas belajar yang intens adalah melalui Metode Wetonan atau Bandongan. Menyelami Lautan Ilmu melalui Wetonan tidak hanya memfasilitasi transfer pengetahuan yang luas dari Kyai ke santri, tetapi juga menumbuhkan ikatan spiritual dan intelektual yang kuat di antara para santri itu sendiri. Menyelami Lautan Ilmu bersama dalam majelis ilmu yang besar ini menciptakan budaya akademik yang unik dan berkelanjutan.
Metode Wetonan secara fisik mengharuskan ratusan santri duduk bersama dalam satu majelis (biasanya di masjid atau aula besar), menyimak, dan mencatat makna dari kitab yang dibacakan oleh Kyai. Kondisi ini secara otomatis menciptakan komunitas belajar kolektif yang sangat intens. Ketika semua santri berjuang untuk fokus pada suara Kyai, mencatat makna Arab Pegon, dan memahami penjelasan yang mendalam, lingkungan ini menuntut disiplin dan keseriusan yang tinggi. Pada kajian rutin Kitab Nashoihul Ibad pada hari Senin, 28 Oktober 2024, di salah satu pondok salaf, tercatat bahwa santri yang duduk di barisan depan biasanya adalah mereka yang paling rajin dan cepat dalam mencatat, mendorong santri lain untuk bersemangat dan berusaha menyamai senior mereka.
Keunggulan metode ini dalam membentuk komunitas terletak pada pengalaman shared knowledge. Semua santri menerima interpretasi yang sama secara serentak dari sumber otoritatif (Kyai). Hal ini menghilangkan perbedaan pemahaman dasar, sehingga ketika mereka kembali ke kamar atau halaqah kecil, diskusi (Mudzakarah) yang terjadi menjadi lebih fokus dan konstruktif. Santri senior (badal) yang sudah mahir dalam mencatat makna seringkali membantu santri junior yang tertinggal, menciptakan sistem dukungan akademik internal yang kuat—sebuah sistem tutor sebaya alami.
Aspek spiritual dan sosial juga berperan dalam Menyelami Lautan Ilmu ini. Kebersamaan dalam majelis Wetonan menumbuhkan rasa persaudaraan (ukhuwah) yang mendalam, melintasi batas daerah, suku, atau kelas sosial. Semua santri adalah murid yang sama di hadapan Kyai. Majelis Wetonan seringkali dijadwalkan setelah waktu ibadah fardhu (seperti setelah Subuh atau Maghrib), memanfaatkan momen di mana hati santri telah siap secara spiritual. Keteraturan dan kontinuitas kajian ini, misalnya yang berlangsung secara intensif selama 45 hari pada periode liburan sekolah, memastikan kedalaman ilmu yang cepat meresap ke dalam sanubari santri, menjadikan Wetonan sebagai jantung yang memompa semangat belajar bagi seluruh komunitas pesantren.
