Kehadiran teknologi media sosial telah mengubah cara manusia berinteraksi, termasuk dalam lingkaran pendidikan dan keluarga yang seharusnya menjunjung tinggi nilai-nilai kesantunan. Sebagai lembaga yang fokus pada pembentukan karakter, Nurul Huda baru-baru ini meluncurkan program edukasi untuk menyikapi fenomena penggunaan perangkat digital di kalangan santri. Fokus utama dari kegiatan ini adalah edukasi gadget pesantren yang bertujuan memberikan batasan moral dalam berinteraksi di dunia maya. Melalui program sosialisasi etika komunikasi, diharapkan para santri tetap mampu menjaga adab dan penghormatan, terutama saat berhadapan dengan guru maupun berinteraksi dengan orang tua di berbagai platform medsos. Hal ini krusial agar nilai-nilai pesantren tidak luntur meskipun terpapar derasnya arus budaya digital yang serba terbuka.
Interaksi antara santri dan pendidik di media sosial seringkali menjadi area abu-abu jika tidak dibatasi oleh aturan yang jelas. Dalam sosialisasi ini, Nurul Huda menekankan bahwa media sosial hanyalah alat, namun subjek yang berkomunikasi tetaplah manusia yang memiliki kehormatan. Penggunaan bahasa yang sopan, tidak menggunakan singkatan yang merendahkan, serta memperhatikan waktu saat mengirimkan pesan menjadi materi inti yang disampaikan. Kesantunan digital merupakan cerminan dari akhlakul karimah yang selama ini dipelajari di dalam kelas. Seorang santri yang beradab tidak akan meninggalkan komentar yang tidak pantas atau mengunggah konten yang dapat menyinggung perasaan guru atau anggota keluarga lainnya.
Selain aspek bahasa, sosialisasi etika komunikasi ini juga menyoroti pentingnya menjaga privasi dan rahasia guru serta keluarga. Di era digital, batasan antara ruang publik dan ruang privat seringkali kabur. Santri diajarkan untuk tidak mengumbar masalah internal pesantren atau urusan keluarga di status media sosial mereka. Nurul Huda mengingatkan bahwa jempolmu adalah harimaumu; apa yang ditulis hari ini akan menjadi jejak digital yang sulit dihapus di masa depan. Oleh karena itu, kebijaksanaan dalam membagikan informasi (sharing) menjadi kemampuan yang wajib dimiliki oleh setiap santri di era modern.
Peran orang tua dalam mendukung program ini sangatlah vital. Seringkali, ketidaktahuan orang tua dalam mengoperasikan gadget membuat pengawasan terhadap anak menjadi longgar. Melalui sosialisasi ini, Nurul Huda juga mengundang perwakilan wali santri untuk memahami risiko-risiko di dunia digital, mulai dari perundungan siber (cyberbullying) hingga konten negatif. Komunikasi yang sehat antara anak dan orang tua di media sosial harus dibangun di atas dasar saling percaya dan keterbukaan, bukan sekadar saling memantau dengan cara yang represif.
