Selain sistem klasikal yang bersifat kolektif, pesantren juga menerapkan pendekatan personal yang sangat intensif untuk memastikan penguasaan literasi bahasa Arab santri melalui metode Sorogan yang legendaris. Dalam sistem ini, seorang santri maju satu per satu menghadap Kyai atau ustadz untuk membacakan teks kitab di hadapan guru secara langsung tanpa bantuan terjemahan dari orang lain. Ini adalah tahap pembuktian bagi seorang santri apakah ia benar-benar telah menguasai kaidah bahasa, struktur kalimat, serta pemaknaan yang tepat sesuai dengan kaidah keilmuan yang berlaku. Metode ini dianggap sebagai cara paling efektif untuk mendeteksi kelemahan individu secara mendetail, sehingga setiap kesalahan dalam membaca harakat atau menentukan kedudukan kata dapat segera dikoreksi pada saat itu juga oleh sang guru.
Tingkat kesulitan dalam pendekatan ini jauh lebih tinggi dibandingkan dengan hanya mendengarkan pengajian umum, karena santri memegang kendali penuh atas teks yang dibacanya. Melalui metode Sorogan, mental keberanian dan kepercayaan diri santri diuji secara langsung di bawah pengawasan ketat seorang ahli ilmu yang sangat berwibawa. Santri harus mempersiapkan diri dengan belajar mandiri sebelum menghadap guru, yang secara tidak langsung melatih kemandirian dan etos kerja keras dalam menggali kedalaman ilmu pengetahuan. Setiap sesi pertemuan menjadi momen yang sangat berharga karena di sanalah terjadi dialog intelektual yang intim, di mana guru memberikan bimbingan khusus yang disesuaikan dengan kapasitas intelektual masing-masing santri, sehingga perkembangan setiap individu terpantau dengan sangat akurat dan terukur.
Keunggulan sistem ini juga terletak pada penekanan aspek kualitas daripada sekadar kuantitas materi yang diselesaikan dalam jangka waktu tertentu di kurikulum. Dalam konteks metode Sorogan, seorang santri tidak diperbolehkan melanjutkan ke halaman berikutnya atau ke kitab yang lebih tinggi jika ia belum benar-benar fasih dan paham pada bab yang sedang dipelajari. Ketegasan ini bertujuan untuk menciptakan lulusan yang memiliki spesialisasi dan keahlian yang mendalam, bukan sekadar tahu banyak hal secara dangkal dan tidak mengakar. Proses yang lambat namun pasti ini membentuk karakter ketelitian dan ketekunan yang sangat dibutuhkan dalam memahami teks-teks hukum Islam yang sangat kompleks dan penuh dengan perdebatan filosofis. Guru akan terus membimbing hingga santri tersebut benar-benar siap untuk dilepas menjadi seorang pembaca kitab yang mahir dan bertanggung jawab.
Dampak psikologis dari pola interaksi tatap muka ini juga sangat besar dalam proses pembentukan jati diri dan karakter seorang calon ulama masa depan. Pelaksanaan metode Sorogan menciptakan ikatan emosional yang kuat antara guru dan murid, di mana murid merasa diperhatikan secara khusus dan guru dapat menyalurkan energinya secara lebih terfokus. Rasa takut akan melakukan kesalahan di depan guru memacu santri untuk lebih teliti dan hati-hati dalam belajar, yang kelak akan terbawa dalam sikap hidupnya saat menangani urusan agama di masyarakat. Guru juga memiliki kesempatan untuk memberikan nasihat yang bersifat privat mengenai masalah pribadi atau spiritual yang dihadapi oleh santri tersebut. Inilah keindahan pendidikan pesantren yang menyentuh ranah kognitif sekaligus afektif dalam satu paket pengajaran yang sangat harmonis dan penuh dengan nilai-nilai ketuhanan.
