Pendidikan karakter di lingkungan pesantren tidak hanya dilakukan melalui kajian kitab kuning yang formal di dalam kelas, tetapi juga melalui pendekatan yang lebih santai namun tetap sarat akan nilai. Salah satu inisiatif yang dijalankan adalah Program Literasi Sore yang kini menjadi agenda favorit para santri di Pondok Pesantren Nurul Huda. Kegiatan ini dirancang untuk mengisi waktu luang setelah shalat Ashar dengan aktivitas yang mencerahkan pikiran, yakni membaca sejarah yang berfokus pada keteladanan para tokoh besar dalam Islam. Fokus utama dari program ini adalah menanamkan kecintaan terhadap literatur sejarah sejak usia dini agar santri memiliki akar identitas yang kuat.
Membaca tentang Sejarah Nabi dan Sahabat memberikan perspektif yang berbeda bagi santri dalam memandang tantangan hidup. Dalam sesi literasi ini, santri tidak hanya diminta untuk membaca teks secara pasif, tetapi juga diajak untuk mendiskusikan nilai-nilai kepemimpinan, kesabaran, dan kejujuran yang dipraktikkan oleh Rasulullah dan para pengikut setianya. Pengurus di Nurul Huda menyediakan perpustakaan terbuka di teras masjid dengan koleksi buku sirah nabawiyah yang disajikan dalam bahasa yang mudah dipahami namun tetap autentik secara rujukan. Hal ini bertujuan agar santri merasa bahwa sejarah bukan sekadar deretan angka tahun dan nama tempat, melainkan sebuah panduan moral yang tetap relevan hingga saat ini.
Aspek literasi yang dikembangkan dalam program ini juga mencakup kemampuan menulis. Setelah sesi membaca selesai, para santri didorong untuk membuat resume singkat atau menuliskan refleksi pribadi mengenai sifat salah satu sahabat nabi yang paling menginspirasi mereka. Kegiatan ini sangat efektif dalam mengasah kemampuan berpikir kritis dan memperluas kosa kata para santri. Dengan memahami perjuangan para sahabat dalam mempertahankan keyakinan di tengah himpitan masa sulit, santri diharapkan memiliki daya tahan mental yang lebih kuat dalam menghadapi dinamika pendidikan di asrama. Pengetahuan sejarah menjadi benteng bagi mereka agar tidak mudah terpengaruh oleh arus informasi modern yang sering kali tercerabut dari nilai agama.
Suasana sore yang tenang di pesantren sangat mendukung konsentrasi dalam membaca. Program ini juga menghapuskan jarak antara santri senior dan junior, karena mereka sering kali duduk melingkar untuk mendengarkan pembacaan buku oleh salah satu perwakilan santri secara bergantian. Literasi sore ini menjadi sarana hiburan yang edukatif, menjauhkan mereka dari rasa jenuh setelah seharian mengikuti kurikulum sekolah formal. Pihak pesantren menyadari bahwa minat baca harus dipupuk melalui lingkungan yang mendukung dan ketersediaan bahan bacaan yang menarik. Oleh karena itu, koleksi buku di Nurul Huda selalu diperbarui dengan versi-versi terbaru yang memiliki ilustrasi narasi yang kuat.
