Santri Kalimantan Buat Sumur Resapan dan Biopori

Inisiatif menjaga kelestarian lingkungan dan mencegah potensi luapan air genangan ditunjukkan oleh para santri di Kalimantan melalui gerakan pembuatan sarana konservasi air. Luasnya permukaan tanah yang tertutup bangunan mendorong berkurangnya area resapan alami, sehingga memicu terjadinya genangan saat curah hujan tinggi. Pelaksanaan pembuatan sumur resapan dan biopori menjadi langkah praktis yang difokuskan pada area pemukiman serta lingkungan sekitar pesantren. Kehadiran lubang sumur resapan bermanfaat besar dalam mengalirkan limpasan air hujan kembali ke dalam lapisan tanah secara optimal.

Aksi ramah lingkungan ini diawali dengan pelatihan teknik penggalian dan pemetaan lokasi potensial bersama tokoh pemuda serta warga sekitar. Santri secara gotong royong menggali lubang silindris pada kedalaman tertentu yang kemudian diperkuat dengan susunan batu bata atau pipa berpori. Lubang biopori juga dibuat di sepanjang alur drainase untuk menampung sampah organik sekaligus mempercepat proses penyerapan air ke dalam tanah.

Kehadiran biopori yang diisi sampah daun kering terbukti memicu aktivitas cacing tanah yang secara alami membentuk pori-pori resapan baru. Selain mengurangi genangan di permukaan jalan, sampah organik yang membusuk di dalam lubang biopori dapat dipanen menjadi pupuk kompos berkualitas setelah beberapa bulan. Inovasi ganda ini memberikan dampak positif bagi kebersihan lingkungan dan kesuburan tanaman di sekitarnya.

Masyarakat desa memberikan apresiasi tinggi terhadap gerakan konservasi air yang digagas oleh para relawan santri ini. Warga mulai meniru teknik pembuatan lubang biopori di pekarangan rumah masing-masing setelah melihat efektivitasnya dalam menyerap air hujan. Kerja sama antara lingkungan pesantren dan warga sekitar tercipta secara alami demi menjaga keseimbangan ekosistem pemukiman mereka.

Melalui kegiatan lapangan ini, para santri belajar menerapkan konsep pemeliharaan alam yang selaras dengan ajaran menjaga kelestarian bumi. Pengetahuan praktis mengenai sains lingkungan dan teknik konservasi tanah menjadi bekal berharga bagi santri dalam bermasyarakat. Edukasi lingkungan secara langsung ini dinilai lebih efektif dalam membentuk kesadaran ekologis generasi muda.

Penerapan teknologi tepat guna berupa saluran resapan buatan oleh santri Kalimantan menjadi contoh nyata aksi mitigasi lingkungan berbasis komunitas. Langkah sederhana ini membantu menjaga ketersediaan air tanah saat musim kemarau tiba sekaligus mengurangi risiko luapan air hujan. Gerakan pelestarian lingkungan ini diharapkan dapat terus meluas ke wilayah pemukiman lainnya.