Pasar tradisional merupakan pusat urat nadi perekonomian masyarakat pedesaan yang menyediakan kebutuhan pokok harian bagi ribuan warga sekitar. Ketika banjir menerjang kawasan Kalimantan, kompleks pasar sering kali menjadi lokasi yang terdampak cukup parah dengan rendaman lumpur tebal dan tumpukan sampah dagangan yang membusuk. Lumpuhnya aktivitas pasar menghentikan pendapatan para pedagang kecil serta menyulitkan warga dalam mendapatkan bahan makanan segar. Melihat situasi tersebut, santri Nurul Hudas bergerak memimpin aksi pembersihan pasar tradisional agar roda perekonomian lokal dapat segera bangkit kembali.
Dengan peralatan kebersihan seperti sekop, cangkul, dan dorongan air, ratusan santri bahu-membahu menyingkirkan endapan lumpur pekat dari lorong-lorong pasar. Kios-kios pedagang yang kotor disemprot menggunakan air bersih untuk menghilangkan sisa material banjir yang menempel pada lantai dan dinding. Guna menampung volume limbah yang sangat besar, tim santri mengordinasikan pembuatan tempat pembuangan sampah sementara di sekitar area pengungsian dan pasar agar proses evakuasi sampah berjalan lancar. Kerja keras para santri mempercepat pemulihan kebersihan area komersial warga.
Semangat gotong royong yang ditunjukkan para santri memicu motivasi para pedagang untuk ikut serta bersatu membersihkan lapak jualan mereka masing-masing. Hanya dalam kurun waktu beberapa hari, kawasan pasar yang tadinya kotor dan berbau tidak sedap berhasil dibersihkan hingga layak digunakan kembali untuk transaksi jual beli. Pembukaan kembali pasar tradisional sangat membantu menstabilkan pasokan pangan dan harga kebutuhan pokok warga pascabencana. Aksi nyata para santri mendapat apresiasi mendalam dari para tokoh masyarakat dan pemerintah daerah setempat.
Keterlibatan aktif santri dalam pemulihan sarana ekonomi masyarakat menunjukkan bahwa fungsi pesantren sangat luas dan menyatu dengan kehidupan rakyat. Pendidikan pesantren membentuk jiwa-jiwa muda yang tangguh, peka terhadap masalah lingkungan, dan selalu siap memberikan solusi bagi masyarakat. Pengalaman membersihkan fasilitas umum pascabencana ini menjadi bagian dari pembelajaran karakter kemandirian dan kepemimpinan sosial bagi para santri. Pesantren tidak hanya mencetak ahli ilmu agama, tetapi juga pejuang kemanusiaan yang tanggap situasi.
Pemulihan sarana publik pascabencana membutuhkan kolaborasi yang solid dari seluruh elemen masyarakat agar dampak ekonomi dapat diminimalisir serendah mungkin. Kebersihan pasar yang telah dipulihkan harus terus dijaga bersama demi kesehatan para pedagang dan pembeli yang bertransaksi setiap hari. Semoga semangat gotong royong yang diteladankan para santri dapat terus menyala dalam kehidupan bermasyarakat di Kalimantan. Mari kita dukung pemulihan ekonomi lokal menuju masyarakat yang lebih sejahtera dan mandiri.
