Sistem Pengajian Sorogan dan Bandongan: Metode Klasik dengan Manfaat Modern

Di tengah modernisasi pendidikan, pondok pesantren tetap kokoh mempertahankan metode pembelajaran klasik yang telah teruji selama berabad-abad. Dua metode yang paling ikonik adalah sistem pengajian sorogan dan bandongan. Meskipun terlihat tradisional, kedua sistem ini memiliki manfaat modern yang tak ternilai, terutama dalam membentuk karakter santri, memperdalam pemahaman, dan membangun hubungan emosional yang kuat antara santri dan kiai. Mereka membuktikan bahwa efektivitas pembelajaran tidak selalu bergantung pada teknologi canggih, melainkan pada interaksi personal dan kedalaman transmisi ilmu.

Sistem pengajian sorogan adalah metode di mana santri secara individu atau kelompok kecil menghadap langsung kepada kiai. Santri membaca atau menghafal teks kitab kuning di hadapan kiai, yang kemudian akan mengoreksi bacaan, harakat, dan makna. Pendekatan personal ini memungkinkan kiai untuk memantau kemajuan setiap santri dengan cermat, memberikan bimbingan yang disesuaikan, dan memastikan pemahaman yang mendalam. Misalnya, pada 12 Agustus 2024, seorang santri bernama Ahmad dari sebuah pesantren di Jawa Timur berhasil mengkhatamkan sebuah kitab fiqih setelah menjalani proses sorogan selama dua tahun. Keberhasilan ini adalah bukti nyata dari efektivitas metode ini dalam menumbuhkan ketekunan dan kedisiplinan.

Sementara itu, sistem pengajian sorogan berjalan berdampingan dengan metode bandongan. Dalam sistem bandongan, kiai membacakan dan menerjemahkan kitab, sementara puluhan atau bahkan ratusan santri mendengarkan dengan seksama dan membuat catatan. Metode ini efisien untuk mentransfer ilmu secara massal dan memberikan gambaran besar dari sebuah kitab. Santri belajar untuk fokus, mendengarkan dengan teliti, dan mengorganisasi pemikiran mereka. Kombinasi kedua metode ini menciptakan ekosistem pembelajaran yang lengkap: sorogan untuk kedalaman personal dan bandongan untuk cakupan yang luas.

Manfaat modern dari kedua sistem ini sangatlah relevan. Di era informasi, di mana konsentrasi seringkali terpecah, sistem pengajian sorogan dan bandongan mengajarkan santri untuk fokus dan terlibat penuh dalam proses belajar. Mereka membangun keterampilan mendengarkan yang aktif dan menumbuhkan rasa hormat terhadap guru. Pada tanggal 10 Februari 2025, dalam sebuah acara bedah buku tentang pendidikan Islam, seorang akademisi dari universitas negeri mengungkapkan bahwa metode klasik ini sangat efektif dalam mengurangi ketergantungan pada alat digital dan menumbuhkan kecintaan pada buku. Hal ini membantu santri untuk tidak hanya menjadi konsumen informasi, tetapi juga pemikir kritis.

Secara keseluruhan, sistem pengajian sorogan dan bandongan adalah bukti bahwa warisan pendidikan masa lalu masih memiliki tempat yang penting di masa depan. Mereka tidak hanya mentransfer ilmu pengetahuan agama, tetapi juga membentuk karakter, membangun hubungan yang mendalam, dan membekali santri dengan keterampilan yang sangat dibutuhkan untuk menjadi individu yang beriman, berilmu, dan berakhlak mulia. Dengan mempertahankan tradisi ini, pesantren tidak hanya menjaga warisan intelektual, tetapi juga memastikan relevansi mereka di era yang terus berubah.